KLATEN --- Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi mengatakan bahwa momen tahun baru Imlek Kongzili 2577 bagi umat Konghucu yang beriringan dengan datangnya bulan Ramadhan bagi umat Muslim merupakan simbol kerukunan dan toleransi yang kuat di Indonesia.
Pada tahun 2026, Tahun Baru Imlek 2577 jatuh pada 17 Februari, sementara awal Ramadan 1447 H jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026. Fenomena ini menjadi kesempatan untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, dan solidaritas sosial.
Menurut Syamsuddin beberapa upaya untuk menguatkan kerukunan pada momentum tersebut diantaranya
saling menghormati dan menghargai toleransi satu dengan yang lainnya.
"Umat Islam menghormati umat Konghucu yang merayakan Imlek dengan suasana sakral, sementara umat Konghucu menghormati awal puasa dengan tidak merayakan secara berlebihan, misalnya membatasi kemeriahan Cap Go Meh jika bertepatan dengan ibadah puasa." katanya.
Dikatakan bahwa tradisi umat Konghucu berbagi dengan angpao dalam Imlek dan berbagi takjil atau makanan berbuka dalam puasa dapat dilakukan masing- masing sebagai aksi sosial tanpa memandang latar belakang agama, memperkuat solidaritas kebangsaan.
"Momen seperti ini dapat juga dilakukan saling mengadakan silaturahmi atau dialog kebangsaan yang melibatkan tokoh masyarakat Tionghoa dan tokoh Islam dan tokoh lintas agama untuk merajut persaudaraan dan menjadikan momen penting ini sebagai ajang untuk menyebarkan pesan perdamaian, keadilan sosial, dan kesadaran bahwa kebhinekaan adalah kekayaan bangsa Indonesia." kata Syamsuddin Asyrofi.
Kegiatan lain yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan mengadakan kajian atau dialog yang membahas selarasnya nilai-nilai kebajikan, keharmonisan, dan kebaikan dari kedua momen tersebut.
"Di tahun 2026, beriringannya Imlek dan Ramadan sebagai wujud Indonesia sebagai negara yang inklusif, di mana keberagaman dirayakan dalam kedamaian dan kebahagiaan bersama." pungkasnya. ( *Moch.Isnaeni* )
