Pendt. Lipiyus Biniluk : Adanya Nyepi dan Idul Fitri Bersamaan Menjadi Momen Merajud Harmoni dalam Keberagaman



PAPUA --- Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Provinsi Papua Pendeta Lipiyus Biniluk mengatakan bahwa di negeri yang dianugerahi beragam suku, budaya, dan agama seperti Indonesia, perbedaan bukanlah sekat pemisah, melainkan jembatan yang menghubungkan kita dalam harmoni kehidupan.


Hal itu disampaikan Lipiyus Biniluk menanggapi adanya 2 hari raya agama yang berbeda dalam waktunya yang bersamaan do Indonesia. 


Umat Islam merayakan Idulfitri setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, sementara umat Hindu akan menjalankan Hari Raya Nyepi sebagai momen refleksi dan penyucian diri. 


"Dua perayaan ini memiliki esensi yang sama: menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan serta sesama." katanya.


Menurutnya perbedaan dalam cara merayakan keduanya bisa menjadi tantangan jika tidak disikapi dengan bijak. Idulfitri dirayakan dengan takbir yang menggema, kebersamaan, dan kebahagiaan. Sementara itu, Nyepi mengajarkan kesunyian, kontemplasi, dan introspeksi. 


"Bagaimana agar dua ekspresi keagamaan ini tetap berjalan berdampingan tanpa gesekan satu dengan yang lainnya di suatu tempat" katanya.


Dalam khasanah sejarah Islam kata Lipiyus ada Piagam Madinah dan Toleransi Nusantara.

Bahkan Nabi Muhammad dalam membangun Madinah yang majemuk, tidak memilih jalur konfrontasi, tetapi merajut persaudaraan melalui Piagam Madinah. 


"Setiap kelompok diberi hak dan kewajiban yang sama untuk hidup berdampingan dalam damai. Prinsip ini juga diterapkan oleh para pendiri bangsa Indonesia, yang memilih Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar kehidupan bernegara." katanya.


Dikatakan bahwa ketika Idulfitri dan Nyepi berdekatan, umat Islam bisa tetap bertakbir dengan tetap menghormati ketenangan umat Hindu. Sebaliknya, umat Hindu juga memahami bahwa kegembiraan Idulfitri adalah bagian dari tradisi Islam yang telah berlangsung turun-temurun. Sikap saling pengertian inilah yang membangun kebersamaan dalam keberagaman.


"Toleransi bukan sekadar jargon, tetapi harus menjadi sikap hidup. Bukan hanya antara Islam dan Hindu, tetapi juga antara semua pemeluk agama. Setiap agama mengajarkan cinta dan perdamaian" kata Lipiyus Biniluk. 


Dikatakan bahwa islam mengajarkan ukhuwah dan kasih sayang antarsesama, 

Kristen menekankan cinta kasih dan pengampunan, Hindu mengajarkan dharma (kebenaran) dan ahimsa (tanpa kekerasan), Buddha menanamkan welas asih dan keseimbangan batin, dan bagi umat Konghucu menekankan keharmonisan dan kebajikan dalam hidup.


"Jika nilai-nilai ini diamalkan, maka keberagaman bukan lagi pemicu perpecahan, melainkan perekat yang memperkuat persatuan." pungkasnya.


Seperti air dan udara yang saling melengkapi, demikian pula perbedaan dalam beragama. Idulfitri dan Nyepi hanyalah contoh kecil bagaimana harmoni bisa tercipta jika kita saling menghormati.


"Mari jadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Dengan hati yang terbuka dan sikap saling menghargai, kita bisa menjaga kedamaian di negeri ini. Sebab, keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan dalam kebersamaan. Selamat Idul Fitri 1447 H semoga semua orang bahagia" pungkasnya. ( *Moch.Isnaeni* )

Lebih baru Lebih lama