KLATEN --- Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi mengatakan bahwa Hari Suci Nyepi yang bertemu dan bertepatan dengan malam Takbiran Idul Fitri, merupakan momentum memperkuat toleransi dan harmoni sosial di masyarakat yang plural.
Hal itu disampaikan Syamsuddin Asyrofi di Klaten, Kamis ( 19/3/2026 ) menanggapi adanya 2 hari raya yang bersamaan antara Hari Suci Nyepi dan Malam Idul Fitri di tahun 2026 ini.
Menurut Syamsuddin Asyrofi tahun ini terjadi momentum yang sarat makna ketika Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948/2026 bertepatan dengan malam takbiran menyambut Idulfitri 1447 H.
"Pertemuan dua perayaan suci ini menjadi gambaran nyata bagaimana keberagaman di Indonesia dapat berjalan dalam harmoni, saling menghormati, dan penuh toleransi." katanya.
Dikatakan bagi umat Hindu Nyepi merupakan hari yang sakral untuk melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api atau cahaya (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), serta tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).
"Selama 24 jam, suasana menjadi hening sebagai bentuk refleksi diri, pengendalian diri, serta upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta." katanya.
Di saat yang sama kata Syamsuddin Asyrofi umat Muslim merayakan malam takbiran sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh.
"Kumandang takbir menjadi simbol kemenangan spiritual, sekaligus pengingat akan kebesaran Tuhan dan pentingnya memperkuat nilai kebersamaan." ujarnya.
Sementara itu perwakilan umat Hindu di FKUB Kabupaten Klaten Wusnu Hendrata mengatakan bahwa pertemuan dua momentum suci ini tidak hanya menjadi peristiwa kebetulan dalam kalender, tetapi juga mengandung pesan mendalam bagi seluruh masyarakat.
"Nyepi mengajarkan tentang keheningan, introspeksi, dan pengendalian diri, sementara takbiran membawa pesan syukur, kebahagiaan, dan semangat persaudaraan. Kedua nilai tersebut sejatinya saling melengkapi dan menguatkan kehidupan bermasyarakat yang damai." katanya.
Dalam situasi seperti ini menurut Wisnu Hendrata sikap saling menghormati menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan di masyarakat yang heterogen.
"Setiap umat diharapkan dapat menjalankan ibadahnya dengan penuh kesadaran untuk menjaga ketenangan, menghargai keyakinan orang lain, serta menumbuhkan rasa empati terhadap sesama." katanya.
Toleransi menurut Wisnu Hendrata bukan hanya sekadar sikap menerima perbedaan, tetapi juga kemauan untuk saling menjaga ruang ibadah masing-masing agar tetap berlangsung dengan khidmat.
"Momen Nyepi yang bertemu dengan malam takbiran ini juga menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman." ujarnya.
Dikatakan bahwa perbedaan agama, budaya, dan tradisi bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan bangsa.
"Ketika masyarakat mampu menjaga saling pengertian, maka harmoni sosial akan dapat terus terpelihara." katanya.
Pada akhirnya kata Wisnu Hendrata, pertemuan dua hari suci ini mengajak seluruh masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai toleransi, persaudaraan, dan saling menghormati.
"Dengan semangat kebersamaan tersebut, Indonesia dapat terus menjadi contoh bagaimana keberagaman dirawat dalam kedamaian, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika." pungkasnya.( *Moch.Isnaeni* )
