Klaten --- Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi mengatakan bahwa nilai-nilai universal agama dapat memperkuat semangat toleransi kebhinekaan dalam perspektif tanggap bencana di Klaten.
Hal itu disampaikan Syamsuddin Asyrofi saat menyampaikan paparannya dalam acara silaturahmi kerukunan umat beragama berbasis Kecamatan Tangguh Bencana ( Kencana ) di Aula kantor Kecamatan Wedi, Selasa ( 14/4/2026 ).
Nilai-nilai universal agama menurut Syamsuddin memainkan peran penting dalam memperkuat semangat toleransi dan kebhinekaan, khususnya dalam perspektif tanggap bencana.
"Dalam situasi krisis, nilai-nilai kemanusiaan melampaui sekat-sekat perbedaan agama, ras, dan suku, menjadikannya landasan solidaritas yang kokoh." katanya.
Dikatakan nilai-nilai universal agama dan implementasinya dalam tanggap bencana mencakup
solidaritas kemanusiaan (ukhuwah insaniyah)
yang inti nilainya hampir semua agama menekankan kewajiban membantu sesama manusia tanpa diskriminasi.
"Bencana mengajarkan bahwa penderitaan adalah duka bersama, yang memicu gotong royong lintas kelompok." katanya.
Dalam perspektif bencana Syamsuddin Asyrofi mengajak kepada para tokoh lintas agama untuk fokus pada penyelamatan jiwa dan bantuan logistik berdasarkan kebutuhan korban, bukan latar belakang agama mereka.
"Semangat toleransi beragama dalam situasi darurat diwujudkan dengan menghormati hak ibadah dan keyakinan masing-masing di lokasi pengungsian." ujarnya.
Dikatakan bahwa dalam perspektif bencana rumah ibadah (masjid, gereja, pura, vihara, klenteng) sering dijadikan tempat perlindungan umum bagi siapapun yang terdampak.
"Oleh karena itu kepedulian sosial dan kedermawanan
melalui agama masing-masing yang mendorong pemeluknya untuk berbagi dan meringankan beban penderitaan orang lain." katanya.
Dalam perspektif bencana para relawan lintas agama kata Syamsuddin bekerja sama memberikan bantuan material dan dukungan psikososial (trauma healing) untuk memulihkan mental korban.
"Konsep persaudaraan (ukhuwah) dan keadilan memastikan bantuan didistribusikan secara merata kepada semua yang terdampak tanpa memandang status sosial dan agama." kata Syamsuddin Asyrofi.
Sementara itu Camat Wedi Widaya di tempat yang sama mengatakan bahwa tokoh agama berperan aktif memobilisasi sumber daya dan memastikan tidak ada kelompok yang terpinggirkan dalam penanganan bencana.
"Semua agama mengajarkan pentingnya kekuatan spiritual untuk sabar menghadapi musibah dan optimis untuk bangkit dan senantiasa berdoa bersama lintas agama menjadi simbol persatuan, ketenangan, dan kekuatan untuk memulihkan diri pasca-bencana. " katanya.
Pemuka agama kata Widaya berperan penting dalam memberikan edukasi mitigasi, meredam isu sensitif, dan membangun koordinasi antarwarga.
"Pendekatan yang menghargai keberagaman budaya dan agama dalam mitigasi bencana dengan melibatkan komunitas agama dalam simulasi bencana dan penggunaan sarana rumah ibadah sebagai pusat informasi." pungkasnya.
Dengan mengedepankan nilai-nilai universal tersebut, bencana yang berpotensi memecah belah justru berubah menjadi momentum penguat persaudaraan kebangsaan yang toleran. ( *Moch.Isnaeni* )
