![]() |
| Temanku Lima Benua gelar kegiatan Sastra Kalpataru di Sanggar Lima Benua di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. Sabtu (30/5/2026). |
Klaten kasihinfo.com – Dengan melibatkan anak dan remaja, seniman Enviromental Art, Temanku Lima Benua menggelar kegiatan Sastra Kalpataru di Sanggar Lima Benua di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten pada Sabtu (30/5/2026).
Ia sengaja mengajak anak dan remaja di sekitarnya untuk mengenal apa itu sastra kalpataru.
“Kalpataru itu adalah karya sastra. Kalpataru itu ada di sekitar lima candi. Dan salah satu relief kalpataru itu ada di Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Candi Mendut. Itu yang paling iconic,” katanya.
Tim Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis itu menyampaikan, relief kalpataru yang ada di Candi Borobudur itu bisa menjadi “kitab suci” ketika ada penerjemahannya. Begitu pula relief Ramayana di Candi Prambanan.
“Artinya, itu ada cerita karya sastra. Ada pendidikan budi pekerti. Misalnya ada hewan berkepala di atas dan di bawah. Namanya Jataka. Itu bercerita tentang nilai, budi pekerti. Seperti juga pada pohon kalpataru yang dijaga oleh dua makhluk, namanya Kinara dan Kinari. Di situ banyak relief. Itu mempunyai kandungan cerita. Lha kandungan cerita itulah sastra,” ujarnya.
Lulusan Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta itu menyatakan, cerita-cerita tentang sastra kalpataru itu sudah ada baik di zaman animisme dan dinamisme. Dimana masyarakat zaman itu menghargai pohon besar.
![]() |
| Terlihat sejumlah anak terlibat dalam kegiatan Sastra Kalpataru di sanggar setempat. |
Di zaman Hindu, juga sudah ada kalpataru. Itu sebagai bukti cinta, bukti toleransi, antara Pikatan dan Pramudya Wardani. Antara (agama) Hindu dan Budha. Itu bisa sebagai simbol toleransi.
Di zaman Budha, Sang Budha (Sidartha Gautama) bertapa di bawah pohon bodhi. Pohon bodhi itu kalpataru. Tentu saja dengan gaya kreasinya Sang Budha.
Di zaman Islam, Sunan Bonang juga sudah berbicara tentang kalpataru. Malah kalpataru yang berbentuk tiga dimensi dengan menatah candi. Sunan Bonang adalah seorang wali, gurunya guru. Dia juga seorang penyair dan penulis, yang peninggalan karyanya masih ada sampai sekarang.
Terkait pengembangan sastra, perempuan yang akrab disapa Liben ini ingin memvisualisasikan karya sastra agar bisa menarik minat masyarakat, terutama generasi muda.
“Kalau anak sekarang itu disuruh membaca nggak mau. Dan kita juga nggak mau memberikan hafalan, yang harus dihafalkan. Tetapi memberikan sebuah memori. Ini lho bentuknya kalpataru. Ini lho karyanya Chairil Anwar. Ternyata kalau ditatah (dipahat) itu bagus. Ra ketang hanya tagline: Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Itu adalah semangat, semangat bertahan, semangat untuk hidup, semangat untuk sehat. Bukan ulang tahunnya. Karena anak sekarang mengartikannya lebih tajam, lebih ganas,” ungkapnya.
Karena itu, Liben mempunyai gagasan untuk mengalih wahanakan karya sastra itu agar lebih menarik masyarakat, terutama generasi muda.
“Agar karya sastra itu lebih menarik, maka kita perlu men-tiga dimensi-kan, men-dua dimensi-kan karya sastra itu. Karena tulisan itu kan satu dimensi. Dengan mengalih wahanakan, maka pembelajaran itu akan menjadi lebih menarik, lebih menantang, lebih simpel, ke alam bawah sadarnya,” terangnya.
Untuk mewujudkan gagasannya itu, Sanggar Lima Benua berharap bisa berkolaborasi dengan Annisa Rengganis (sering disapa Nissa Rengganis), Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, yang juga merupakan sastrawan.
“Kami berharap, Bu Nissa mau datang ke sini (Sanggar Lima Benua). Bisa membuka kegiatan di sini. Bagaimana kita mempromosikan karya sastra Indonesia di luar negeri. Karena untuk mempromosikan karya sastra Indonesia itu kita butuh energi, butuh tim yang lebih kreatif. Dengan pengembangan yang lebih kreatif dan inovatif, sebuah karya sastra akan kelihatan lebih berdimensi, lebih kelihatan identitasnya, dan lebih kelihatan karakternya. Karena kita ini adalah bangsa yang amazing (luar biasa), bangsa yang tua, yang perlu mengimbangi agar kelihatan inovatif, kreatifnya. Dan ini masih sejalan dengan programnya Bu Nissa,” harapnya.
Ide mengalih wahanakan karya sastra ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia ke 8 yaitu Harmoni Lingkungan, Budaya, dan Toleransi Beragama. Pilar ini bertujuan menjaga keselarasan alam, melestarikan warisan budaya, dan memperkuat kerukunan antar umat beragama untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. (Kamto)

