Klaten Kasihinfo.com - Banyak cara bisa dilakukan orang dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni.
Seperti yang dilakukan Seniman Enviromental Art, Temanku Lima Benua.
Ia mengadakan kegiatan bersama anak dan remaja sekitar untuk mengingatkan Pancasila di Sanggar Lima Benua di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten pada Sabtu (30/5/2026).
“Kita mengadakan kegiatan untuk mengingatkan anak dan remaja akan Pancasila. Paling tidak, mereka tidak buta banget dengan sejarah, bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan sebagainya. Bahwa mereka bisa menggambar kalpataru itu juga Pancasilais. Itu juga nilai, value. Nilai Pancasila itu mencintai alam sekitarnya. Penerjemahannya di zaman modern ini ya, ayo menggambar kalpataru,” katanya.
Sekretaris Ketua Dewan Pengawas Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya (MCB) Muhammad Asrian Mirza itu menyampaikan, dalam kegiatan ini, anak-anak diajak menggambar kalpataru, yang di belakangnya (sebaliknya) ditulis sila-sila dalam Pancasila.
“Jadi, sederhana saja. Mereka hafal dulu (dengan sila di Pancasila), bisa dulu, baru kemudian paham. Sederhana khan. Lha, apa jadinya kalau ada seorang polisi yang ditanya lambang sila ke 3 apa pak? Apa jadinya kalau seorang militer ditanya sila ke 2 lambangnya apa pak? Lha gimana kalau seumpama mereka lupa, padahal tugasnya adalah menjaga (Pancasila) itu?” tanyanya.
Lulusan Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta itu menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan Pancasila kepada anak dan remaja di sekitarnya dengan cara yang sederhana dan kontekstual.
“Kita nggak muluk-muluk dengan pendapat seperti pendapatnya orang lain. Kita netral. Kita bukan dalam rangka mengarahkan, tetapi kita mengingatkan bahwa mereka pernah melakukan itu. Ini bagian dari mengingatkan nilai-nilai pancasila. Karena kalau mereka dijelaskan dengan teori yang muluk-muluk, mereka bingung, nggak nyambung dengan Gen Alpha, Gen Z, dan sebagainya,” terangnya.
Perempuan yang akrab disapa Liben itu mengatakan, dalam acara ini ia mengundang anak dan remaja yang tergabung di bank sampah setempat. Ada sekitar 40 orang yang hadir. Usia mereka dari SD, SMP, sampai SMA.
“Ini sebenarnya acara rutin. Karena setiap bulan kita ada pertemuan untuk mengumpulkan sampah di sini. Tetapi untuk acara peringatan Hari Lahir Pancasila ini dadakan. Ketika mereka tahu kalau saya pulang, mereka lalu minta diadakan acara. Karena berdekatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, maka kita adakan acara ini. Kita pahamkan nilai-nilai Pancasila kepada mereka,” tandasnya.
Kegiatan yang diinisiasi Liben ini mendapat tanggapan yang baik dari anak dan remaja setempat.
“Senang rasanya saya bisa mengikuti acara ini. Di sini saya bisa menggambar kalpataru, menuliskan sila-sila dalam Pancasila, bisa bermain sama teman-teman, dan juga bisa memperingati Hari Lahir Pancasila. Pokoknya senang dech,” ucap seorang peserta.
Hari Lahir Pancasila
Terkait Hari Lahir Pancasila, Liben menerangkan bahwa (istilah) Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 saat berlangsung rapat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Saat rapat BPUPKI itu, Ir Soekarno menyampaikan lima asas dasar negara, dimana pada sila kelima itu disebutkan Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Cita-cita mengenai Ketuhanan yang berkebudayaan, yang walaupun kemudian diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa ini merupakan langkah terbaik bagi bangsa Indonesia.
Soal berkebudayaan, ini sejalan dengan cita-cita Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang salah satu diantaranya adalah Megadiversity. Konsep megadiversity ini merujuk pada kekayaan dan keanekaragaman luar biasa yang dimiliki Indonesia, tidak hanya dalam hal keanekaragaman hayati (alam) tetapi juga kebudayaan, yang diposisikan sebagai kekuatan pemersatu bangsa serta potensi diplomasi global (soft power).
“Pancasila itu alat ikat budaya nusantara, Indonesia. Pancasila itu perekat bangsa. Karena bangsa Indonesia itu memang Megadiversity. Itu harus dipahami dulu. Justru perbedaan itulah kuatnya kita. Jadi ya, jangan dimasalahkan,” ungkap Liben.
Menurut Liben, Pancasila itu yang penting nilainya atau value-nya.
“Jadi bukan terbatas pada aturan-aturan. Tetapi pada nilai budayanya, maknanya, dan filosopinya. Pancasila itu pondasi, atau philosophische grondslag . Maka orang harus paham itu dulu,” tegasnya.
Tentang kebudayaan, Liben berharap, masyarakat Indonesia juga perlu tahu dan ingat akan Asta Cita ke 8 Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yaitu Harmoni Lingkungan, Budaya, dan Toleransi Beragama.
Indonesia adalah negara yang kaya budaya, plural secara agama, dan penuh potensi alam. Asta Cita menutup visi pembangunan ini dengan tekad menjaga harmoni. Pendidikan lingkungan, pelestarian seni dan budaya lokal, serta penguatan nilai-nilai toleransi harus terus diarusutamakan dalam kurikulum dan kegiatan kampus.
Isu keberlanjutan dan toleransi kini menjadi indikator penting dalam peradaban modern. Kampus perlu merancang program edukasi lintas agama, riset sosial-budaya, dan gerakan hijau yang berbasis komunitas mahasiswa. Harmoni harus menjadi praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar slogan seremonial.
Untuk diketahui, Hari Lahir Pancasila ini bersamaan dengan tanggal kelahiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Ia lahir pada tanggal 1 Juni 1971.
“Selamat ulang tahun Pak Fadli Zon. Semoga senantiasa dianugerahi kesehatan, keberkahan, dan kebijaksanaan dalam memajukan dan melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia," ucap Liben. (*)
