Dapur SPPG Gedaren Jatinom Di Launching. Selain Memasak Dengan CNG, Juga Ada Laboratorium Cek Makanan

Launching Dapur SPPG Gedaren ditandai dengan pengguntingan pita oleh Perwakilan dari kecamatan dan disaksikan oleh pihak desa, kepala dapur, pihak yayasan hingga korwil BGN Klaten. Rabu, (10/06/2026).



Klaten kasihinfo.com - Yayasan Merah Putih Peduli kembali Launching Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gedaren yang berada di Surobayan, desa Gedaren kecamatan Jatinom, Klaten. Rabu,(10/06/2026).


Turut hadir dalam pelaksanaan kegiatan, perwakilan dari Yayasan Merah Putih Peduli, Korwil BGN Klaten, sejumlah kepala dapur sppg se kecamatan Jatinom, perwakilan kecamatan Jatinom, perwakilan desa Gedaren, Puskesmas, hingga perwakilan sejumlah sekolah penerima manfaat MBG.


Kepala dapur Sppg Gedaren, Nadia flora Aisyah irzani mengatakan, setelah berbagai persiapan baik fisik dapur peralatan hingga sumber daya manusia sudah dinyatakan siap, maka sppg Gedaren dilaunching dan mengenai operasional masih menunggu arahan dari BGN.


“ Dapur Sppg kami sudah siap mas, dari berbagai aspek, baik secara fisik, yaitu gedung, bahkan hingga Ipal, peralatan, baik terkait fasilitas, keamanan tentang higienis makanan dan terkait teknis lainnya sudah siap. Maka hari ini, Rabu, 10 Juni 2026, SPPG Gedaren dilounching. Tapi terkait kapan mulai beroperasi masih menunggu arahan dari BGN. Yang pasti kami sudah siap untuk beroperasi,” katanya.


Nantinya dapur sppg Gedaren akan melayani sebanyak 13 sekolah dan dua desa, atau hampir 2000 orang penerima manfaat MBG.


Nadia menjelaskan jika sppg Gedaren memastikan dan menjamin mbg yang didistribusikan higienis dan layak konsumsi, dikarenakan sppg setempat mempunyai laboratorium pengecekan makanan sebelum didistribusikan ke penerima manfaat.


“ Jadi di dapur sppg kami ada laboratorium pengecekan sampel makanan. Sebelum dilakukan distribusi akan dilakukan pengecekan sampel makanan, untuk memastikan apakah makanan tersebut layak konsumsi atau tidak, sehingga dapat dipastikan makanan yang didistribusikan nantinya layak konsumsi,”jelasnya.


Ada satu lagi yang membedakan dengan sppg lainnya, sppg Gedaren adalah sppg pertama yang tidak menggunakan gas LPG dalam memasak, melainkan menggunakan CNG.


“ CNG merupakan alternatif energi yang lebih bersih, stabil, dan diklaim lebih hemat 30 hingga 40 persen dibandingkan gas LPG konvensional. Saya berharap, dengan adanya sppg Gedaren, Jatinom tersebut bisa bermanfaat bagi penerima manfaat dalam hal gizi dan memajukan program MBG,” pungkasnya


Tim CNG saat menunjukkan instalasi CNG di dapur sppg Gedaren.


Sedangkan sekretaris yayasan merah Putih peduli, Heri Widagdo mengatakan, dapur sppg Gedaren merupakan sppg ke enam di bawah naungan Yayasan Merah Putih Peduli di Klaten Jawa Tengah. Ia menegaskan jika seluruh sppg di bawah naungan yayasan sudah sesuai standar yang ditentukan BGN.


“ Seluruh sppg di bawah yayasan kami sudah sesuai standar dari BGN mas, ini kami terapkan agar tidak ada perbaikan disaat sppg sudah operasional. Salah satu ciri khas dari sppg di bawah yayasan merah Putih peduli yaitu adanya laboratorium pengecekan makanan,” katanya.


Dalam sambutan camat Jatinom yang diwakili oleh Kasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat kecamatan Jatinom, Lasono berpesan dalam penyajian makanan sesuai dengan SOP yang ada, dan perlu hati2, karena MBG salah satu program yang banyak jadi sorotan masyarakat.


“ Inikan MBG jadi perhatian khusus oleh warga masyarakat, maka kami berpesan penyajian sesuai SOP, pendistribusian juga harus diperhatikan, jangan sampai telat. Semoga kegiatan sesuai dengan tujuan yaitu memberikan gizi bagi anak-anak dan menjadi sehat dan kuat,” pesannya.


Tim laboratorium pengecekan makanan sppg Gedaren saat lakukan cek sampel makanan.


Sedangkan koordinator wilayah (korwil) BGN Klaten, Yoga Angga Pratama mengapresiasi sppg setempat karena adanya fasilitas laboratorium pengecekan makan sebelum pendistribusian makanan, karena tidak semua sppg mempunyai laboratorium pengecekan makanan.


“ ini sangat bagus mas, tadi kami cek selain sudah lengkap dan siap beroperasi, sppgnya ada laboratorium pengecekan sampel makanan. Ini bagus, guna memastikan kelayakan makanan untuk dikonsumsi, karena tidak semua sppg mempunyai laboratorium pengecekan makanan,” ungkap Yoga.


Yoga menambahkan, hingga saat ini sppg yang sudah mulai operasional di Klaten Jawa Tengah diangka 151 sppg, dan masih ada beberapa sppg yang sudah siap tetapi masih menunggu ijin operasional dari BGN.


“Saat ini masih ada 4 sppg yang di-suspend hingga waktu yang belum ditentukan untuk melakukan pemenuhan dan persyaratan yang telah ditentukan BGN. Sedangkan untuk insentif bagi ke empat sppg tersebut juga sudah tidak diberikan lagi, baik untuk sppg maupun untuk yayasan yang menaungi sppg tersebut,” pungkasnya. (HRD)


Lebih baru Lebih lama