![]() |
| H. Moch. Isnaeni saat diwawancarai Sejumlah awak media Klaten. |
Klaten kasihinfo.com -- Ketua Komisi Komunikasi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Klaten, H. Moch. Isnaeni mengatakan bahwa kegiatan literasi media multiplatform di era disrupsi informasi saat ini telah menjadi kebutuhan mendesak bagi para pegiat dakwah yang tergabung di MUI Kabupaten Klaten.
Hal itu disampaikan H. Moch. Isnaeni di sela-sela acara Workshop Literasi Media Multiplatform untuk Dakwah Berbasis Islam Wasathiyah di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Isnaeni, arus informasi yang begitu cepat dan tanpa filter telah mengubah cara masyarakat menerima dakwah. Jika para dai tidak melek media, maka ruang digital akan dikuasai oleh konten-konten hoaks, ujaran kebencian, penipuan berkedok agama, hingga paham-paham ekstrem.
"Di era disrupsi informasi seperti sekarang ini, literasi media multiplatform sudah bukan lagi menjadi pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan pokok bagi para pegiat dakwah yang tergabung di MUI Kabupaten Klaten. Kita tidak bisa lagi hanya berdakwah dari mimbar ke mimbar. Kita harus hadir di WA, Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube," ujar Isnaeni.
Ia menjelaskan, tujuan utama workshop yang diikuti oleh 90 orang peserta dari MUI Kecamatan dan MUI Kabupaten ini adalah untuk membekali para dai agar mampu memproduksi konten dakwah yang sejuk, beradab, dan berbasis Islam Wasathiyah.
"Kita ingin melahirkan dai-dai digital MUI Klaten. Dai yang tidak hanya paham ilmu agama, tetapi juga paham cara mengemas dakwah agar menarik, mudah dipahami, dan viral di media sosial. Dakwah Wasathiyah itu harus kita sebarkan masif untuk melawan narasi-narasi yang memecah belah umat," tegasnya.
Lebih lanjut, Isnaeni berharap setelah mengikuti workshop ini, para peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi produsen konten kebaikan. Minimal, satu hari satu konten positif untuk umat.
"Kami dari Komisi Kominfo MUI Klaten berkomitmen akan terus mendampingi para dai Kecamatan dalam membuat konten. Workshop ini baru awal. Nanti akan ada pendampingan, ada grup khusus, dan ada kurasi konten agar dakwah kita di Klaten tetap terjaga kualitasnya," pungkasnya.
Workshop tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Ketua FKUB Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin Asyrofi, yang menyampaikan materi Moderasi Beragama dalam Perspektif Islam Wasathiyah, dan Fredi Pratama, S.Ak., pegiat media sosial, yang memberikan materi dan praktik langsung literasi media multiplatform.
( 24/10,2026 ) .
KH. Syamsuddin Asyrofi dalam paparan materinya mengatakan Islam Wasathiyah artinya Islam yang berada di tengah, moderat, dan seimbang.
Kata "Wasathiyah" menurut Syamsuddin Asyrofi berasal dari dari bahasa Arab _wasath_ yang artinya tengah, adil, dan terbaik.
"Jadi bukan Islam yang lembek atau campur aduk, tapi Islam yang tidak Ekstrem Kanan - Tidak kaku, tidak gampang mengkafirkan orang lain, tidak keras dalam beragama." katanya.
Dalam kehidupan sehari-hari Islam wasathiyah kata Syamsuddin Asyrofi juga tidak Ekstrem Kiri, tidak liberal sampai meninggalkan aturan agama, dan tetap berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah.
Oleh karena itu orang menjalankan syariat agama sudah senestinya dijalani dengan seimbang.
"Seimbang antara ibadah kepada Allah (_hablumminallah_) dan hubungan baik dengan manusia (_hablumminannas_). Seimbang antara urusan dunia dan akhirat." katanya.
Hal lain yang perlu diketahui bahwa Islam Wasathiyah itu penuh toleran dan Adil yakni Menghargai perbedaan, tidak memaksa, tapi tetap tegak lurus dalam kebenaran. Inilah yang disebut Tawassuth, Tawazun, Tasamuh, dan I'tidal." pungkasnya.
( *Moch.Isnaeni* )

Posting Komentar