KH. Syamsuddin Asyrofi: Islam Wasathiyah Adalah Kunci Dakwah Sejuk di Era Digital



Klaten kasihinfo.com - Ketua FKUB Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin Asyrofi, mengatakan bahwa nilai-nilai Islam Wasathiyah dalam perspektif moderasi beragama harus menjadi ruh utama dalam setiap konten dakwah di media sosial.


Hal tersebut disampaikan KH. Syamsuddin Asyrofi pada acara Workshop Literasi Media Multiplatform dengan tema "Menyebarkan Dakwah Berbasis Islam Wasathiyah", yang diselenggarakan oleh Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Kabupaten Klaten.


Kegiatan yang diikuti oleh 90 orang peserta dari unsur MUI Kecamatan, MUI Kabupaten, serta undangan lainnya ini digelar di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten, Sabtu (24/10/2026).


Dalam pemaparannya, KH. Syamsuddin Asyrofi menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan agama atau melemahkan akidah, melainkan bagaimana beragama secara adil, seimbang, toleran, dan tidak ekstrem.


"Islam Wasathiyah itu ada 4 pilar utama yang harus kita pegang. Pertama, *Tawassuth*, beragama di tengah, tidak condong ke kanan atau ke kiri, tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim kanan. Kedua, *Tawazun*, seimbang antara hablumminallah dan hablumminannas, seimbang antara dunia dan akhirat. Ketiga, *Tasamuh*, toleran, menghargai perbedaan tanpa harus meleburkan prinsip. Keempat, *I'tidal*, adil dan lurus, menegakkan kebenaran tanpa kezhaliman," jelas KH. Syamsuddin.


Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa di era media multiplatform saat ini, tantangan terbesar dakwah bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal bagaimana cara menyampaikan kebenaran agar diterima dengan sejuk oleh berbagai kalangan.


"Zaman dulu, dakwah itu satu mimbar untuk satu kampung. Sekarang satu HP bisa menjangkau seribu kampung. Kalau konten kita kaku, keras, dan penuh kebencian, yang akan viral adalah kebencian itu. Tapi kalau konten kita Wasathiyah, sejuk, beradab, dan mencerahkan, maka itulah yang akan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir," tegasnya.


Ia juga mengingatkan para dai MUI Kecamatan dan Kabupaten yang hadir agar tidak terjebak dalam politik identitas dan adu domba di media sosial, terutama setiap menjelang kontestasi Pilkades, Pilkada, pdan Pilpres.


"Jangan sampai jari kita menjadi alat untuk memecah belah umat. Tulis satu status yang menyejukkan, itu lebih baik daripada seribu komentar yang memprovokasi. Itulah dakwah Wasathiyah sesungguhnya," pungkasnya.


Workshop diteruskan dengan sesi pembuatan konten dakwah singkat oleh peserta, didampingi oleh narasumber kedua, Fredi Pratama, S.Ak. ( *Moch.Isnaeni* )

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama