Haji Adalah Miniatur Kehidupan, Setiap Tahapan Mencerminkan Fase Menghadapi Ujian.

KH. Muchlis Hudaf


KLATEN -- Berdasarkan pandangan KH. Muchlis Hudaf, filosofi ibadah haji merupakan gambaran dari perjalanan kehidupan manusia itu sendiri. Hal ini disampaikan Muchlis Hudaf dalam manasik haji bersama calon jamaah haji Kabupaten Klaten tahun 2026 di Gedung Grha Bung Karno Klaten, Rabu ( 11/2/2026 ) sebagai wujud refleksi perjalanan manusia, mulai dari kesiapan, perjuangan, hingga kembali ke hadirat-Nya dalam keadaan suci. 


Menurutnya filosofi dan hikmah haji berdasarkan pandangan tersebut dan pemahaman umum, bahwa filosofi manasik dalam kehidupan 

adalah gambaran Perjalanan hidup. 


"Haji adalah miniatur kehidupan. Setiap tahapan (Ihram, Wukuf, Tawaf, Sa'i) mencerminkan fase manusia menghadapi ujian, ketaatan, dan kebutuhan untuk bertobat." katanya.


Ibadah haji kata Muchlis Hudaf, jika dilakukan dengan mabrur, akan membersihkan jiwa pelakunya dari dosa-dosa, layaknya bayi yang baru lahir.


Di Tanah Suci dijelaskan semua jamaah tanpa memandang ras, warna kulit, bahasa, atau status sosial berkumpul dalam satu tujuan yang sama, menonjolkan persamaan hakikat manusia di hadapan Allah SWT. 


"Haji mabrur ditandai dengan perubahan perilaku menjadi lebih baik setelah kembali ke tanah air. Orang yang sebelumnya pemarah menjadi sabar, sombong menjadi tawadu, dan jujur." katanya.


Haji mabrur kata Muchlis Hudaf tidak hanya saleh secara pribadi (hablum minallah), tetapi juga berdampak sosial (hablum minannas), dengan memiliki kepedulian tinggi, santun, dan menjadi agen kedamaian di masyarakat." ujarnya.


Ibadah haji menjadi sarana dan sebagai bentuk tobat nasuha, di mana dosa-dosa terdahulu dihapuskan oleh Allah SWT.


"Oleh karena itu haji mabrur adalah haji yang tidak bercampur dengan dosa (syirik/maksiat), yang balasannya tidak lain adalah surga." katanya.

 

Dijelaskan tentang ciri-ciri haji mabrur adalah ikhlas dan sesuai tuntunan.


"Niat semata-mata karena Allah SWT dan dilakukan sesuai contoh Rasulullah SAW, tidak berkata keji, tidak berbuat fasik, dan tidak bertengkar selama ibadah haji." katanya.


Yang tidak kalah pentingnya pasca haji hendaknya oara jamaah haji mampu mempertahankan perilaku baik dan kepekaan sosial yang didapat di Tanah Suci dalam keseharian setelah kembali. 


Secara ringkas, haji mabrur menurut pandangan ini menekankan bahwa kemabruran tidak hanya diukur dari ritual di Tanah Suci, tetapi diuji saat kembali ke tanah air, yakni dengan menjadi manusia yang lebih taat kepada agama, lebih manusiawi, dan lebih berguna bagi sesama.( *Moch.Isnaeni* )

Lebih baru Lebih lama