Syamsuddin Asyrofi : Ibadah Puasa Menjadi Bagian dari Laku Prihatin Dalam Filsafat Jawa

 

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi.


Klaten --- Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi mengatakan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan memiliki relevansi yang sangat erat dengan laku prihatin dalam falsafah Jawa. 


Hal itu disampaikan Syamsuddin Asyrofi saat memberikan tausiyah pada acara tarweh keliling perdana bersama Bupati Klaten di Rumah Dinas Bupati , Jum'at ( 20/2/2026 ).


"Puasa Ramadhan bagi masyarakat Jawa bukan hanya sekadar kewajiban agama untuk menahan lapar dan haus, melainkan juga bentuk "tirakat" atau laku prihatin untuk menata diri, mengasah rasa, dan mencapai derajat manusia yang lebih mulia." katanya. 


Dikatakan bahwa relevansi antara puasa Ramadhan dan laku prihatin dalam filsafat Jawa diantaranya

penyucian diri dan pengendalian hawa nafsu bagi insan yang melakukannya.


"Laku prihatin adalah jalan sunyi untuk menundukkan ego dan menahan diri dari keinginan duniawi. Hal ini sejalan dengan tujuan puasa Ramadhan, yaitu menahan makan, minum, dan hawa nafsu (amarah, syahwat) untuk mencapai ketakwaan." katanya.


Konsep "Cegah Dhahar Lawan Guling" dalam ajaran Jawa (seperti yang tercantum di Serat Wulangreh), terdapat prinsip cegah dhahar lawan guling (mengurangi makan dan tidur). 


"Ramadhan memfasilitasi hal ini secara sempurna, di mana umat Islam makan hanya di waktu sahur dan berbuka, serta mengurangi waktu tidur untuk ibadah malam (tarawih/tahajud)." kata Syamsuddin.


Menurutnya laku prihatin itu dapat mengasah empati dan rasa sosial. Dengan berpuasa maka hal itu telah mengajarkan untuk merasakan lapar, yang menumbuhkan rasa empati terhadap sesama yang kekurangan. 


"Dalam budaya Jawa, laku prihatin ini adalah bagian dari tepo sliro (tenggang rasa) dan kepedulian sosial untuk mencapai derajat taqwa" ujarnya.


Mencapai derajat jalma winilis laku prihatin yang dilakukan tulus ikhlas, seperti puasa Ramadhan, dipercaya masyarakat Jawa dapat mengangkat derajat seseorang menjadi jalma winilis (manusia pilihan) yang dekat dengan Tuhan. Itulah derajat taqwa yang dusebut dalam Al Qur'an dengan ungkapan "la'alakum tattaquun" katanya.


Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam sambutannya mengatakan bahwa ibadah puasa merupakan ikhtuar penyelarasan lahir dan batin.


"Puasa Ramadhan menuntut kesiapan batin dan lahiriah, membuat ibadah ini menjadi momen tirakat atau lelono batin untuk menata diri secara utuh." katanya. 


Dikatakan Hamenang bahwa puasa Ramadhan sejalan dengan filosofi Jawa bahwa kebahagiaan hidup sejati dicapai bukan dengan menuruti keinginan, melainkan dengan menahan diri, prihatin, dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. ( *Moch.Isnaeni* )

Lebih baru Lebih lama