![]() |
| Pegiat Komunitas Lima Benua, Temanku Lima Benua membuat Award Kalpataru. |
Klaten kasihinfo.com – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) yang jatuh pada tanggal 5 Juni, ada saja kegiatan yang dilakukan oleh komunitas lima benua.
Dalam peringatan kali ini, Komunitas Lima Benua yang berada di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten berfokus pada perubahan iklim dengan kampanye resmi bertema #NowForClimate atau #SekarangUntukIklim, yang bertujuan menyoroti krisis lingkungan dan mendesak aksi nyata untuk melindungi bumi.
Pegiat Komunitas Lima Benua, Temanku Lima Benua menyampaikan, berangkat dari apa yang bisa dilakukan, dan apa yang mereka punyai, maka komunitas ini membuat Award Kalpataru.
“Kita membuat Award Kalpataru ini karena pertama, di sini (Komunitas Lima Benua) ini punya banyak orang yang spesialis. Spesialis tentang kuningan, Stainles, besi, kayu, las, dan sebagainya. Karena kalau kita ingin membuat barang itu harus dilakukan oleh orang-orang yang punya spesialis, orang-orang yang ahlinya. Sebuah komunitas yang punya spesialis-spesialis itu. Dan yang kedua, dari apa yang ada. Misalnya, kita punya kuningan, Stainles, besi, kayu jati, dan lain-lain. Itu yang kita manfaatkan,” katanya.
![]() |
| Komunitas Lima Benua membuat Award Kalpataru. |
Temanku Lima Benua menyatakan, untuk membuat Award Kalpataru itu, mereka telah melakukan banyak hal.
“Yang kita lakukan ya rapat, berkumpul, berdiskusi, kita sebar dalam satu tempat, namanya ruang publik atau Komunitas Lima Benua. Ini adalah sebuah filosofi, historiografi, dan kosmologi (pemaknaan), bahwa sebuah komunitas yang terdiri dari para ahlinya dan mengerjakan dari apa yang ada, akhirnya menghasilkan sebuah barang yang punya kualitas di atas premium,” ujarnya.
Liben yang juga sebagai Tim Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Ekonomi dan Industri Budaya, Anindita Kusuma Listya, S.Sos., MPP itu mengatakan, selama ini, Komunitas Lima Benua memang telah dipercaya untuk membuat Award Kalpataru.
“Mengapa Komunitas Lima Benua dipercaya (untuk membuat Award Kalpataru)? Ya, karena komunitas ini terdiri dari para ahli (spesialis). Ini yang membedakan. Kita membuat Award Kalpataru semaksimal mungkin, sesuai keahlian kita. Kita memverifikasi Award Kalpataru yang top itu yang seperti ini lho. Memang sudah ada karya yang baik, tetapi kita ingin membuat lagi karya yang terbaik,” terangnya.
![]() |
| Komunitas Lima Benua yang berada di Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. |
Lulusan Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta itu menjelaskan, Komunitas Lima Benua ingin membuat Award Kalpataru, bukan trophy, dan bukan piala.
“Karena kelasnya itu sudah award. Bahwa Komunitas Lima Benua itu world class, sudah tingkat dunia. Kita ingin mengangkat Klaten. Bahwa orang Timur itu, soal tangan, jangan ditanya. Kalau ingin teknologi ya silahkan ke Cina atau Jepang. Tetapi ini soal orang Timur, ini Indonesia, ini Nusantara,” tandasnya.
Perempuan yang akrab disapa Liben ini mengemukakan, Award Kalpataru ini dibuat untuk mengapresiasi dan menghargai para pejuang dan pahlawan lingkungan di Indonesia.
“Ini sebuah kesadaran akan perjuangan para pejuang dan pahlawan lingkungan. Seperti Mbah Sadiman (yang menanam pohon untuk menghijaukan lereng selatan Gunung Lawu), Pak Sururi (yang menanam bakau untuk menyelamatkan pantai di utara Semarang), dan sebagainya. Alangkah ngerinya dedikasi mereka. Itu yang menggerakkan kita, biar menjadi prestise bagi mereka. Karena apa yang mereka lakukan sangat prestise, dedikasi betul. Dan ahli-ahli (di Komunitas Lima Benua) ini konsisten seperti mereka. Mereka intens, hubungannya di situ. Latar belakang ini yang mempengaruhi kita. Ini sebagai “laku”, bahwa harus keluar air mata dan keringat. Maka, setiap hari kita lakukan (kerja ini) sampai malam, sampai jam 24.00. Ini penghargaan kepada mereka, karena mereka itu telah berjuang, setiap hari,” paparnya.
Terkait dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, Liben berpesan kepada generasi muda untuk belajar dari Mbah Sadiman, Pak Sururi, dan sebagainya.
“Ini lho namanya mengabdi. Ini lho namanya pioner. Ini lho namanya pejuang. Lalu perjuanganmu apa? Nggak apa-apalah kamu mengumpulkan sampah, lalu kamu jadikan ABCD. Kan gampang to. Tinggal ke belakang rumah, ada sampah dikumpulin, dibuat pavin blok, misalnya. Paling tidak bahasanya begini, kamu di bumi ini nggak ngontrak, nggak bayar, kamu dengan seenaknya mengambil kayu, minyak. Kalau kamu tinggal di tetanggamu, paling-paling kamu sudah diusir,” ungkapnya.
Liben menambahkan, pesan itu merupakan sebuah kesadaran sederhana, bahwa manusia hidup di dunia yang satu.
“Kita itu ngontrak ora, manggon pirang-pirang sasi, malah njupuk sak moh-mohe. Sugih dinggo wetengmu dewe. Maka sadarlah, kita itu satu kesatuan di dunia. Semuanya juga butuh udara, maka jangan tebang pohon. Semuanya juga butuh air. Hati-hati, gurun pasirnya meluas, hutannya berkurang. Karena itu, anak muda harus berani ekstrim, mengambil tindakan. Kamu bisa jadi pejuang dengan gayamu, dengan style-mu, dengan passion-mu. Itu yang terpenting,” ucap Liben. (Kamto)


